Tuesday, 10 April 2018

NABI NUH A.S. [ BAHAGIAN 2 ]






NABI NUH A.S. [ BAHAGIAN 2 ]








C. NUH MEMBUAT KAPAL


     Setelah menerima perintah Allah SWT untuk membuat kapal segera Nabi Nuh mengumpulkan para pengikutnya dan mulai mereka mengumpulkan bahan yang diperlukan untuk maksud tersebut, kemudian dengan mengambil tempat di luar dan agak jauh dari kota dan keramaiannya, mereka dengan rajin dan tekun bekerja siang dan malam menyelesaikan pembinaan kapal yang diperintahkan itu.

     Walaupun Nabi Nuh telah menjauhi kota dan masyarakatnya, agar dapat bekerja dengan tenang, tanpa gangguan, menyelesaikan pembinaan kapalnya, namun dia tidak luput dari ejekan dan cemuhan kaumnnya yang kebetulan atau sengaja melalui tempat kerja membina kapal itu. Mereka mengejek dan mengolok-olok dengan mengatakan: "Wahai Nuh! Sejak bila engkau telah menjadi tukang kayu? Bukankah engkau seorang nabi atau rasul menurut pengakuanmu, kenapa sekarang menjadi seorang tukang kayu dan pembuat kapal? Dan kapal yang engkau buat itu di tempat yang jauh dari air, apakah maksudmu untuk ditarik oleh kerbau ataukah mengharapkan angin yang akan menarik kapalmu ke laut?"

     Dan lain-lain ejekan yang diterima oleh Nabi Nuh dengan sikap dingin dan tersenyum sambil menjawab: "Baiklah tunggu sahaja saatnya nanti, jika sekarang kamu mengejek dan mengolok-olok kami maka akan tibalah masanya kelak bagi kami untuk mengejek kamu dan akan kamu ketahui kelak untuk apa kapal yang kami siapkan ini. Tunggulah saat azab dan hukuman Allah SWT menimpa atas diri kamu."

     Setelah selesai pekerjaan pembuatan kapal yang merupakan alat pengangkutan laut yang pertama di dunia, Nabi Nuh menerima wahyu dari Allah: "Bersiap-siaplah engkau dengan kapalmu, bila tiba perintah-Ku dan bila terlihat tanda-tanda daripada-Ku, maka segeralah angkut bersamamu di dalam kapalmu para pengikutmu, orang-orang yang telah beriman dari kaummu dan kerabatmu dan bawalah dua pasang dari setiap jenis makhluk yang ada di atas bumi dan belayarlah dengan izinku."

     Kemudian tercurahlah dari langit dan memancut dari bumi air yang deras dan dahsyat yang dalam sekelip mata telah menjadi banjir besar melanda seluruh kota dan desa, menggenangi dataran yang rendah mahupun yang tinggi sampai mencapai puncak-puncak bukit sehingga tiada tempat berlindung dari air banjir yang dahsyat itu kecuali kapal Nabi Nuh yang telah berisi penuh dengan orang mukmin dan pasangan-pasangan makhluk yang diselamatkan oleh Nabi Nuh atas perintah Allah SWT.

     Dengan iringan "Bismillah majraha wa mursaha" belayarlah kapal Nabi Nuh dengan lajunya menyusuri lautan air, menentang angin yang kadang-kala lemah-lembut dan kadang-kala ganas dan disertai dengan ribut taufat. Di kanan kiri kapal terlihatlah orang-orang kafir bergelut melawan gelombang air yang menggunung berusaha menyelamatkan diri dari cengkaman maut yang sudah sedia menerkam mereka di dalam lipatan gelombang-gelombang itu.

     Tatkala Nabi Nuh berada di atas geladak kapal memerhatikan cuaca dan melihat-lihat orang-orang kafir dari kaumnya sedang bergelimpangan di atas permukaan air, tiba-tiba terlihatlah olehnya tubuh putera sulungnya yang bernama "Kan'aan" timbul dan tenggelam dipermainkan oleh gelombang yang tidak menaruh belas kasihan kepada orang-orang yang sedang menerima hukuman Allah SWT itu. Pada saat itu, tanpa disedari, timbullah rasa cinta dan kasih sayang seorang ayah terhadap putera kandungnya yang berada dalam keadaan cemas menghadapi maut ditelan gelombang.

     Nabi Nuh secara sengaja, terdorong oleh suara hati kecilnya berteriak dengan sekuat suranya memanggil puteranya: "Wahai anakku! Datanglah ke mari dan gabungkan dirimu bersama keluargamu. Bertaubatlah engkau dan berimanlah kepada Allah SWT agar engkau selamat dan terhindar dari bahaya maut yang engkau hadapi dan jangan mengikuti orang-orang kafir yang sedang menjalani hukuman Allah SWT."

     Kan'aan, putera Nabi Nuh, yang tersesat dan telah terkena racun rayuan Iblis dan hasutan kaumnya yang sombong dan keras kepala itu menolak dengan keras ajakan dan panggilan ayahnya yang menyayanginya dengan kata-kata yang menentang: "Biar aku dan pergilah, jauhilah aku, aku tidak sudi berlindung di atas geladak kapalmu, aku akan dapat menyelamatkan diriku sendiri dengan berlindung di atas bukit yang tidka akan dijangkau oleh air banjir ini."

     Nuh menjawab: "Percayalah bahawa tempat satu-satunya yang dapat menyelamatkan engkau, ialah bergabung dengan kami di atas kapal ini. Masa ini tidak akan ada yang dapat melepaskan diri dari hukuman Allah SWT yang telah ditimpakan ini kecuali orang-orang yang memperoleh rahmat dan keampunan-Nya."

     Selesai Nabi Nuh mengucapkan kata-katanya, tenggelamlah Kan'aan disambar gelombang yang ganas dan lenyaplah ia dari pandangan mata ayahnya, tergelincir ke bawah lautan air mengikuti kawan-kawan dan pembesar-pembesar kaumnya yang derhaka itu.

     Nabi Nuh bersedih hati dan berdukacita atas kematian puteranya dalam keadaan kafir yang tidak beriman dan belum mengenal Allah SWT beliau berkeluh-kesah dan berseru kepada Allah SWT: "Ya Tuhanku, sesungguhnya puteraku itu adalah darah dagingku dan adalah bahagian dari keluargaku dan sesungguhnya janjiMu adalah janji yang benar dan Engkaulah Hakim yang Maha Berkuasa."

     Kepadanya Allah SWT berfirman yang bermaksud: "Wahai Nuh! Sesungguhya dia puteramu itu tidaklah termasuk keluargamu, kerana dia telah menyimpang dari ajaranmu, melanggar perintahmu, menolak dakwahmu dan mengikuti jejak orang-orang yang kafir daripada kaummu. Hilanglah dia dari senarai keluargamu. Hanya mereka yang telah menerima dakwahmu, mengikuti jalanmu dan beriman kepada-Ku, dapat engkau masukkan dan golongkan ke dalam barisan keluargamu yang telah Aku janjikan perlindungannya dan terjamin keselamatan jiwanya."

     "Adapun orang-orang yang telah mengingkari risalahmu, mendustakan dakwahmu dan tetap mengikuti hawa nafsunya dan tuntunan Iblis, pastilah mereka akan binasa menjalani hukuman yang Aku telah tentukan walau mereka berada di puncak gunung. Maka janganlah engkau sekali lagi menanyakan tentang sesuatu yang belum engkau mengetahui. Aku ingatlah janganlah engkau sampai tergolong ke dalam golongan orang-orang yang bodoh."

     Nabi Nuh sedar segera setelah menerima teguran dari Allah SWT bahawa cinta dan kasih sayangnya kepada anaknya telah menjadikan dia lupa akan janji dan ancaman Allah SWT terhadap orang-orang kafir termasuk puteranya sendiri. Dia sedar bahawa dia tersesat pada saat dia memanggil puteranya untuk menyelamatkannya dari bencana banjir, yang didorong oleh perasaan naluri darah yang menghubungkannya dengan puteranya, padahal sepatutnya cinta dan taat kepada Allah SWT harus mendahului cinta kepada keluarga dan harta-benda.

     Dia sangat menyesal di atas kelalaian dan kealpaannya itu dan menghadap kepada Allah SWT memohon ampun dan maghfirahnya dengan berseru: "Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terlaknat, ampunilah kelalaian dan kealpaanku sehingga aku menanyakan sesuatu yang aku tidak mengetahuinya. Ya Tuhanku, bila Engkau tidak memberi ampun dan maghfirah serta menurunkan rahmat bagiku, nescaya aku menjadi orang yang rugi."

     Setelah air bah itu mencapai puncak keganasannya dan habis binasalah kaum Nuh yang kafir dan zalim sesuai dengan kehendak dan hukuman Allah SWT, surutlah lautan air diserap bumi kemudian terdamparlah kapal Nuh di atas bukit "Judie" dengan iringan perintah Allah SWT kepada Nabi Nuh: "Turunlah wahai Nuh ke darat, engkau dan para mukmin yang menyertaimu dengan selamat dilimpahi barakah dan inayah dari sisi-Ku bagimu dan bagi umat yang menyertainya."

     Kisah Nabi Nuh dalam Al-Quran terdapat dalam 43 ayat dari 28 surah, di antaranay surah Nuh dari ayat 1 sehingga 28 yang bermaksud:

Ertinya:

"Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih." Dia (Nuh) berkata: "Wahai kaumku! Sesungguhnya aku ini seorang pemberi peringatan dan amaran yang jelas kepada kamu," (Iaitu) sembahlah Allah, bertakwalah kepadaNya dan taatlah kepadaku, Supaya DIa mengampunkan sebahagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai pada batas waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah itu apabila telah datang, tidak dapat ditangguh, seandainya kamu mengetahui. Dia (Nuh) berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang," "Tetapi seruanku itu tidak menambahkan (iman) mereka, malah mereka (semakin) lari (dari kebenaran)." "Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (untuk beriman) agar Kamu mengampunkan mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke telinga mereka sambil menutupkan baju mereka (ke wajah masing-masing) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri." "Lalu sesungguhnya aku menyeru mereka dengan cara terang-terangan." "Kemudian aku menyuruh mereka secara terbuka dan dengan diam-diam. Maka aku berkata (kepada mereka): "Mohonlah keampunan kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Nescaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, Dan Dia memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu." Mengapa kamu tidak menghargai kebesaran dan kekuasaan Allah? Padahal sesungguhnya Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan (kejadian). Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis? Dan di sana Dia mencipta bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang terang-benderang)? Dan di sana Dia mencipta bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang terang-benderang)? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah, tumbuh-tumbuhan (beransur-ansur), Kemudian Dia akan mengembalikan kamu ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkan kamu (pada hari kiamat) dengan pasti. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, Agar kamu dapat pergi ke sana ke mari di jala-jalan yang luas. Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka derhaka kepadaku dan mereka mengikuti orang yang harta dan anak-anaknya hanya menambahkan kerugian baginya, Dan mereka melakukan tipu daya yang sangat besar." Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan janganlah pula Suwa', Yaghuth, Ya'uq dan Nasr." Dan sesungguhnya mereka telah menyesatkan ramai orang dan janganlah Kamu tambahkan bagi orang yang zalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan, lalu dimasukakn ke dalam neraka, maka mereka tidak mendapat penolong selain Allah. Dan Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang kafir itu tinggal di atas bumi." Sesungguhnya jika Kamu biarkan mereka tinggal, nescaya mereka akan menyesatkan hamba-hambaMu dan mereka hanya akan melahirkan anak-anak yang jahat dan tidak tahu bersyukur. Ya Tuhanku, ampunkanlah aku, ibu bapaku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman lelaki dan perempuan. Dan janganlah Kamu tambahkan lagi orang yang zalim itu selain kehancuran." (Surah Nuh: 1-28)

     Dan dalam surah Hud ayat 27 sehingga 48 yang mengisahkan dialog Nabi Nuh dan kaumnya dan perintah pembuatan kapal serta keadaan banjir yang menimpa ke atas mereka sebagai berikut yang bermaksud:

"Maka berkatalah ketua-ketua yang kafir daripada kamunya: "Kami tidak melihatmu melainkan sebagai seorang manusia (biasa) seperti kami dan kami tidak melihat orang yang mengikutimu melainkan orang yang hina di antara kami yang berfikiran singkat dan kami tidak melihatmu memiliki sesuatu kebolehan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahawa kamu adalah orang yang berdusta." Nuh berkata: "Wahai kaumku! Apa pandangan kamu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata daripada Tuhanku dan diberiNya aku rahmat dari sisiNya, kemudian bukti yang nyata dan rahmat itu menjadi kabur pada pandangan kamu. Apakah kami akan memaksa kamu menerimanya, padahal kamu membencinya?" Dan (Nuh berkata): "Wahai kaumku! Aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah daripada Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka, akan tetapi aku memandang kamu suatu kaum yang tidak mengetahui." Dan (Nuh berkata): "Wahai kaumku! Siapakah yang akan menolongku daripada (azab) Allah jika aku mengusir mereka? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?" Dan aku tidak mengatakan kepada kamu, (bahawa) aku mempunyai perbendaharaan-perbendaharaan Allah (gudang-gudang rezeki dan kekayaan daripada Allah) dan aku tidak mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan bahawa sesungguhnya aku adalah malaikat dan aku tidak (juga) mengatakan kepada orang yang dipandang hina oleh penglihatan kamu, bahawa Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka. Sesungguhnya jika aku melakukan demikian, nescaya aku tergolong di kalangan orang yang zalim." Mereka berkata: "Wahai Nuh! Sesungguhnya kamu telah bertikam lidah dengan kami dan kamu telah memanjangkan bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang yang benar." Nuh menjawab: "Hanya Allah yang akan mendatangkan azab kepada kamu jika Dia menghendaki dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskandiri." "Dan tidaklah bermanfaat nasihatku kepada kamu, jika aku hendak menasihati kamu, kalau Allah hendak menyesatkan kamu (kerana kamu tetap berdegil), Dialah Tuhan kamu dan kepadaNyalah kamu dikembalikan." Malahan kaum Nuh itu berkata: "Dia cuma mengada-adakan nasihatnya saja." Katakanlah (Nuh): "Jika aku mengada-adakan nasihat itu, maka hanya akulah yang akan memikul dosaku dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat." Dan diwahyukan kepada Nuh bahawasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu kecuali orang yang telah beriman (saja), kerana itu janganlah engkau bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami dan janganlah engkau berbicara denganku tentang orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan bermulalah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: "Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) akan mengejek kamu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami)." "Kelak kamu akan mengetahui siapakah yang akan ditimpa azab yang menghinakan dan yang akan ditimpa azab yang kekal." Hingga apabila perintah Kami datang dan Tannur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari pelbagai binatang, masing-masing sepasang (jantan dan betina) dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang yang beriman." Dan tidak ada orang yang beriman yang turut bersama-samanya melainkan sedikit sahaja. Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu belayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Wahai anakku! Naiklah (ke dalam bahtera) bersama kami dan janganlah engkau berada bersama orang yang kafir." Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku daripada air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi pada hari ini daripada azab Allah selain Allah (saja) yang Maha Penyayang." Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang yang ditenggelamkan. Dan difirmankan: "Wahai bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan), berhentilah!" Dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas Bukit JUdiy dan dikatakan: "Binasalah orang yang zalim." Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku sebahagian daripada keluargaku dan sesungguhnya janjiMu itulah yang benar. Dan Engkau adalah hakim yang paling Bijaksana." Allah berfirman: "Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah daripada keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya), perbuatan yang tidak baik. Sebab itu, janganlah engkau memohon kepadaku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikat)nya. Sesungguhnya aku memperingatkan kamu supaya engkau jangan termasuk orang yang jahil." Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu daripada memohon kepadaMu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi keampunan kepadaku dan (tidak) mengasihaniku, nescaya aku termasuk orang yang rugi." Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu daripada memohon kepadaMu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi keampunan kepadaku dan (tidak) mengasihaniku, nescaya aku termasuk orang yang rugi. Difirmankan: "Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan daripada Kami, atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) daripada orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan kepada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih daripada Kami." (Surah Hud: 27-48)


D. Pengajaran Yang Dapat Dipetik Daripada Kisah Nabi Nuh A.S.


     Bahawasanya hubungan antara manusia yang terjalin kerana ikatan persamaan kepercayaan atau persamaan aqidah dan pendirian adalah lebih berat dan lebih berkesan daripada hubungan yang terjalin kerana ikatan darah atau kelahiran.

     Kan'aan yang walaupun dia adalah anak kandung Nabi Nuh A.S., oleh Allah SWT dikeluarkan dari bilangan keluarga ayahnya, kerana dia menganut kepercayaan dan agaman berlainan dengan apa yang dianut dan didakwahkan oleh ayahnya sendiri bahkan dia berada di pihak memusuhi dan menentangnya.

     Maka dalam pengertian inilah dapat difahami dan firman Allah SWT dalam Al-Quran yang bermaksud:

     "Sesungguhnya para mukmin itu adalah bersaudara."

     Demikian pula hadis Rasulullah SAW yang bermaksud:

"Tidaklah sempurna iman seseorang kecuali jika dia menyintai saudaranya yang seiman sebagaimana dia menyintai dirinya sendiri."

     Juga peribahasa yang berbunyi; "Adakalanya engkau memperoleh seorang saudara yang tidak dilahirkan oleh ibumu."




"(Dan Allah berfirman): "Wahai Adam! 
Tinggallah kamu dan isterimu di dalam
syurga serta makanlah olehmu berdua
(buah-buahan) di mana saja yang kamu
berdua suka. Dan janganlah kamu berdua
mendekati pohon ini, jika tidak, jadilah
kamu berdua termasuk orang yang zalim.""
(Surah Al-A'raf: 19)









N / F : DARIPADA "KISAH-KISAH PARA NABI & RASUL", OLEH ABDULLAH BIN AHMAD MUBARAK.

Friday, 6 April 2018

NABI NUH A.S. [ BAHAGIAN 1 ]






NABI NUH A.S. [ BAHAGIAN 1 ]








     NABI Nuh A.S. adalah nabi keempat sesudah Adam, Syith dan Idris dan keturunan kesembilan dari Nabi Adam. Ayahnya adalah Lamik bin Metusyalih bin Idris.


A. Dakwah Nabi Nuh A.S. Kepada Kaumnya


     Nabi Nuh A.S. menerima wahyu kenabian dari Allah SWT dalam masa "fatrah", iaitu masa kekosongan di antara dua rasul di mana biasanya manusia secara beransur-ansur melupakan ajaran agama yang dibawa oleh nabi yang meninggalkan mereka dan kembali syirik, meninggalkan amal kebajikan, melakukan kemungkaran dan kemaksiatan, di bawah pimpinan Iblis.

     Demikianlah maka kaum Nabi Nuh A.S. tidak luput dari proses tersebut, sehingga ketika Nabi Nuh A.S. datang di tengah-tengah mereka, mereka sedang menyembah berhala, ialah berupa patung-patung yang dibuat oleh tangan mereka sendiri, disembahnya sebagai tuhan-tuhan yang dapat membawa kebaikan dan manfaat serta menolak segala kesengsaraan dan kemalangan. Berhala-berhala yang dipertuhankan dan yang menurut kepercayaan mereka mempunyai kekuatan dan kekuasaan ghaib ke atas manusia itu diberinya nama-nama yang silih berganti menurut kehendak dan selera kebodohan mereka. Kadang-kadang mereka namakan berhala mereka "Wadd" dan "Suwa" kadangkala "Yaghuth" dan bila sudah bosan digantinya nama "Yatuq" dan "Nasr".

     Nabi Nuh A.S. berdakwah kepada kaumnya yang sudah jauh tersesat oleh Iblis itu, mengajak mereka meninggalkan syirik dan penyembahan berhala dan kembali kepada tauhid, menyembah Allah SWT seru sekalian alam, melakukan ajaran-ajaran agama yang diwahyukan kepadanya serta meninggalkan kemungkaran dan kemaksiatan yang diajarkan oleh Syaitan dan Iblis.

     Nabi Nuh A.S. menarik perhatian kaumnya agar melihat alam semesta yang diciptakan oleh Allah SWT berupa langit dengan matahari, bulan dan bintang yang menghiasinya, bumi dengan kekayaan yang memberi kenikmatan hidup bagi manusia, pergantian malam menjadi siang dan siang menjadi malam, yang kesemuanya itu menjadi bukti dan tanda nyata akan adanya keesaan Tuhan yang harus disembah dan bukan berhala-berhala yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri.

     Di samping itu Nabi Nuh juga memberitakan kepada mereka bahawa akan ada ganjaran yang akan diterima oleh manusia atas segala amalnya di dunia, iaitu syurga bagi segala amal kebajikan dan neraka bagi segala pelanggaran terhadapa perintah agama yang berupa kemungkaran dan kemaksiatan.

     Nabi Nuh yang dikurniai Allah SWT dengan sifat-sifat yang patut dimiliki oleh seorang nabi, fasih dan tegas dalam kata-katanya, bijaksana dan sabar dalam tindak-tanduknya, melaksanakan tugas risalahnya kepada kaumnya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan dengan cara yang lemah lembut, mengetuk hati nurani mereka dan kadangkala dengan kata-kata yang tajam dan nada yang kasar bila menghadapi pembesar-pembesar kaumnya yang keras kepala yang enggan menerima hujah dan dalil-dalil yang dikemukan kepada mereka yang tidak dapat mereka membantahnya atau mematahkannya.

     Akan tetapi walaupun Nabi Nuh telah berusaha sekuat tenaganya berdakwah kepada kaumnya dengan segala kebijaksanaan, kecekapan dan kesabaran dan dalam setiap kesempatan, siang mahupun malam, dengan cara berbisik-bisik atau dengan cara terang dan terbuka, ternyata hanya sedikit sekali dari kaumnya yang dapat menerima dakwahnya dan mengikuti ajakannya, yang menurut setengah riwayat, tidak melebihi bilang seratus orang. Mereka itu terdiri dari orang-orang yang fakir miskin dan berkedudukan sosial lemah.

     Sedang orang-orang yang kaya-raya, berkedudukan tinggi dan terpandang dalam masyarakat, yang merupakan pembesar-pembesar dan penguasa-penguasa tetap membangkang, tidak mempercayai Nabi Nuh A.S., mengingkari dakwahnya dan sekali-kali tidak rela melepaskan agama dan kepercayaan mereka terhadap berhala-berhala mereka, bahkan mereka berusaha dengan mengadakan persekongkolan hendak melumpuhkan dan menggagalkan usaha dakwah Nabi Nuh A.S..

     Berkata mereka kepada Nabi Nuh A.S.: "Bukankah engkau hanya seorang daripada kami dan tidak berbeza daripada kami sebagai manusia biasa. Jikalau betul Allah SWT akan mengutus seorang rasul yang membawa perintah-Nya, nescaya Dia akan mengutus seorang malaikat yang patut kami dengarkan kata-katanya dan kami ikuti ajakannya dan bukan seorang manusia biasa seperti engkau yang hanya dapat diikuti oleh orang-orang yang rendah kedudukan sosialnya, seperti para petani, buruh kasar, orang-orang yang miskin, yang bagi kami mereka hanya merupakan sampah masyarakat."

     "Pengikut-pengikutmu itu adalah orang-orang yang tidak mempunyai daya berfikir dan ketajaman otak, mereka mengikutimu secara buta-tuli tanpa memikirkan dan menimbangkan masak-masak benar atau tidaknya dakwah dan ajakanmu itu. Cuba agama yang engkau bawa dan ajaran-ajaran yang engkau sadurkan kepada kami itu betul-betul benar, nescaya kamilah yang lebih dulu mengikutimu dan bukan orang-orang yang mengemis, seperti pengikut-pengikutmu itu."

     "Kami sebagai pemuka-pemuka masyarakat yang pandai berfikir, memiliki kecerdasan otak dan pandangan yang luas dan yang dipandang oleh masyarat sebagai pemimpin-pemimpinya, tidakalh mudah bagi kami untuk menerima ajakanmu dan dakwahmu. Engkau tidak mempunyai kelebihan di atas kami tentang kepandaian, kecerdasan, kekayaan mahupun pengetahuan tentang soal-soal kemasyarakatan dan pergaulan hidup. Kami jauh lebih pandai dan lebih mengetahui daripadamu tentang hal itu semuanya. Anggapan kami terhadap dirimu, tidak lain dan tidak bukan, bahawa engkau adalah pendusta belaka."

     Nuh berkata, menjawab ejekan dan olok-olokan kaumnya: "Adakah kamu menduga bahawa aku dapat memaksa kamu mengikuti ajaranku atau menduga bahawa aku mempunyai kekuasaan untuk menjadikan kamu orang-orang yang beriman, jika kamu tetap menolak ajakanku dan tetap membuta tuli terhadap bukti-bukti kebenaran dakwahku dan tetap mempertahankan pendirianmu yang tersesat yang diilhami oleh kesombongan da kebongkakak kerana kedudukan dan harta-benda yang kamu miliki."

     "Aku hanya seorang manusia yang mendapat amanah dan diberi tugas oleh Allah SWT untuk menyampaikan risalah-Nya kepada kamu. Jika kamu tetap berkeras kepala dan tidak mahu kembali ke jalan yang benar dan menerima agama Allah SWT yang diutuskannya kepadaku, maka terpulanglah kepada Allah SWT untuk menentukan hukuman-Nya dan ganjaran-Nya atas diri kamu. Aku hanya pesuruh dan rasul-Nya yang diperintahkan menyampaikan amanah-Nya kepada hamba-hamba-Nya."

     "Dialah yang berkuasa memberi hidayah kepadamu dan mengampuni dosamu atau menurunkan azab dan seksa-Nya di atas kamu sekalian jika Ia kehendaki. Dialah pula yang berkuasa menurunkan seksa dan azab-Nya di dunia atau menangguhkannya sampai hari kemudian. Dialah Tuhan pencipta alam semesta ini, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Pengasih dan Maha Penyayang."

     Kaum Nuh mengemukakan syarat dengan berkata: "Wahai Nuh! Jika engkau mengkehendaki agar kami mengikutimu dan memberi sokongan dan semangat kepadamu dan kepada agama yang engkau bawa, maka jauhkanlah para pengikutmu yang terdiri dari orang-orang petani, buruh dan hamba-hamba sahaya itu. Usirlah mereka dari pergaulanmu, kerana kami tidak dapat bergaul dengan mereka, duduk berdampingan dengan mereka, mengikuti cara hidup mereka dan bergabung dengan mereka dalam suatu agama yang samaratakan para bangsawan dengan orang awam, samaratakan penguasa dan pembesar dengan buruh-buruhnya dan samaratakan orang kaya yang berkedudukan dengan orang yang miskin dan papa."

     Nabi Nuh menolak syarat kaumnya dan berkata: "Risalah dan agama yang aku bawa adalah untuk semua orang tiada pengecualian, yang pandai mahupun yang bodoh, yang kaya mahupun yang miskin, majikan mahupun buruh, penguasa mahupun rakyat biasa, semuanya mempunyai kedudukan dan tempat yang sama terhadap agama dan hukum Allah SWT."

     "Andai kata aku memenuhi syaratmu dan melulukan keinginanmu untuk menyingkirkan para pengikutku yang setia itu, maka siapakah yang dapat kuharapkan akan meneruskan dakwahku kepada orang ramai dan bagaimana aku sampai hati menjauhkan daripadaku orang-orang yang telah beriman dan menerima dakwahku dengan penuh keyakinan dan keikhlasan di kala kamu menolaknya serta mengingkarinya, orang-orang yang telah membantuku dalam tugasku di kalakamu menghalangi usahaku dan merintangi dakwahku. Dan bagaimanakah aku dapat mempertanggungjawabkan tindakan pengusiranku kepada mereka terhadap Allah SWT bila mereka mengadu bahawa aku telah membalas kesetiaan dan ketaatan mereka dengan sebaliknya hanya semata-mata untuk memenuhi permintaanmu dan tunduk kepada syaratmu yang tidak wajar dan tidak dapat diterima oleh akal dan fikiran yang sihat. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang bodoh dan tidak berfikiran sihat."

     Pada akhirnya, kerana merasa tidak berdaya lagi mengingkari kebenaran kata-kats Nabi Nuh A.S. dan merasa telah kehabisan alasan dan hujah untuk melanjutkan dialog dengan beliau, maka berkatalah mereka: "Wahai Nuh! Kita telah banyak bertikam lidah dan berdebat dan cukup berdialog serta mendengar dakwahmu yang sudah menjemukan. Kami tetap tidak akan mengikutimu dan tidak akan sekali-kali melepaskan kepercayaan dan adat-istiadat kami, sehingga tidak ada gunanya lag engkau mengulagulanginya dakwah dan ajakanmu dan bertegang lidah dengan kami."

     "Datangkanlah apa yang telah engkau janjikan dan ancamkan kepada kami jika engkau benar-benar orang yang menepati janji dan kata-katanya. Kami ingin melihat kebenaran kata-katamu dan ancamanmu dalam kenyataan. Kerana kami masih tetap belum mempercayaimu dan tetap meragukan dakwahmu."


B. Nabi Nuh A.S. Berputus Asa Dari Kaumnya


    Nabi Nuh berada di tengah-tengah kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun berdakwah menyampaikan risalah Tuhan, mengajak mereka supaya meninggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah dan beribadah kepada Allah SWT Yang Maha Kuasa, memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat dan gelap ke jalan yang benar dan terang, mengajar mereka hukum-hukum syariat dan agama yang diwahyukan oleh Allah SWT kepadanya, mengangkat darjat manusia yang tertindas dan lemah ke tingkat yang sesuai dengan fitrah dan qudratnya dan berusaha menghilangkan sifat-sifat sombong dan bongkak yang melekat pada para pembesar kaumnya dan mendidik agar mereka berkasih sayang, tolong-menolong di antara sesama manusia.

     Akan tetapi dalam waktu yang cukup lama itu, Nabi Nuh tidak berhasil menyedarkan dan menarik kaumnya untuk mengikuti dan menerima dakwahnya beriman, bertauhid dan beribadah kepada Allah SWT kecuali sekelompok kecil pengikut yang tidak mencapai bilangan seratus orang, walaupun dia telah melakukan tugasnya dengan segala daya upayanya dan sekuat tenaganya, dengan penuh kesabaran dan kesusahan menghadapi penghinaan, ejekan dan cercaan makian kaumnya, kerana dia mengharapkan akan datang masanya di mana kaumnya akan sedar diri dan datang mengakui kebenaran dakwahnya.

     Harapan Nabi Nuh akan kesedaran kaumnya itu ternyata makin hari makin berkurang dan bahawa sinar iman dan takwa tidak akan menembus ke dalam hati mereka yang telah tertutup rapat oleh ajaran dan bisikan Iblis. Hal mana menjadi lebih tegas dan nyata dengan diterimanya wahyu oleh Nabi Nuh berupa firman Allah SWT yang bermaksud:

"Sesungguhnya tidak akan ada seorang daripada kaumnya mengikutimu dan beriman kecuali mereka yang telah mengikutimu dan beriman lebih dahulu, maka janganlah engkau bersedih hati kerana apa yang mereka perbuat."

     Dengan penegasan firman Allah SWT itu, lenyaplah sisa harapan Nabi Nuh dari kaumnya dan habislah kesabarannya. Dia memohon kepada Allah SWT agar menurunkan azab-Nya di atas kaumnya yang keras kepala sambil berseru: "Ya Tuhanku! Janganlah Engkau biarkan seorang pun daripada orang-orang kafir itu hidup dan tinggal di atas bumi. Mereka akan berusaha menyesatkan hamba-hamba-Mu, jika Engkau biarkan mereka tinggal, dan mereka tidak akan melahirkan dan menurunkan selain anak-anak yang berbuat maksiat dan anak-anak yang kafir seperti mereka."

     Doa Nabi Nuh dikabulkan oleh Allah SWT dan permohonannya diperkenankan dan kepadanya diperintahkan agar membuat sebuah kapal dan tidak perlu lagi menghiraukan dan mempersoalkan kaumnya, kerana mereka itu akan menerima hukuman Allah SWT dengan mati tenggelam.









N / F : DARIPADA "KISAH-KISAH PARA NABI & RASUL", OLEH ABDULLAH BIN AHMAD MUBARAK.

Thursday, 5 April 2018

NABI IDRIS A.S.






NABI IDRIS A.S.








TIDAK banyak keterangan didapati tentang kisah Nabi Idris A.S., di dalam Al-Quran mahupun dalam kitab-kitab Tafsir dan kitab-kitab sejarah nabi-nabi. Di dalam Al-Quran hanya terdapat dua ayat tentang Nabi Idris A.S., iaitu dalam surah Maryam ayat 56 dan 57:

Ertinya:

"Dan ceritakanlah (wahai Muhammad kepada mereka) kisah Idris (yang tersebut) di dalam Al-Quran, sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi." (Surah Maryam: 56-57)

     Nabi Idris adalah keturunan keenam dari Nabi Adam, putera dari Yarid bin Mihla'iel bin Qinan bin Anusy bin Syith bin Adam A.S. dan dia adalah keturunan pertanam yang dikurniakan kenabian menjadi Nabi setelah Adam dan Syith.

     Nabi Idris A.S. menurut sebahagian riwayat bermukim di Mesir, di mana dia berdakwah untuk agama Allah SWT mengajarkan tauhid dan beribadah menyembah Allah SWT serta memberi beberapa pedoman hidup bagi pengikut-pengikutnya agar menyelamatkan diri dari seksaan di akhirat dan kehancuran serta kebinasaan di dunia. Ia hidup sampai usia 82 tahun.

     Di antara beberapa nasihat dan kata-kata mutiaranya ialah:

1. Kesabaran yang disertakan dengan keimanan kepada Allah SWT membawa kemenangan.

2. Orang yang bahagia, ialah orang yang berwaspada dan mengharapkan syafaat dari Tuhannya dengan amal solehnya.

3. Bila kamu memohon sesuatu kepada Allah SWT dan berdoa, maka ikhlaskanlah niatmu, demikian pula puasa dan solatmu.

4. Janganlah bersumpah dalam keadaan kamu berdusta dan jangan menuntut sumpah dari orang yang berdusta agar kamu tidak menyekutui mereka dalam dosa.

5. Taatlah kepada raja-rajamu dan tunduklah kepada pembesar-pembesarmu serta penuhilah selalu mulut-mulutmu dengan ucapan syukur dan puji kepada Allah SWT.

6. Janganlah iri hati kepada orang-orang yang baik nasibnya, kerana mereka tidak akan banyak dan lama menikmati kebaikan nasibnya itu.

7. Barangsiapa melampaui kesederhanaan tidak sesuatu pun akan memuaskannya.

8. Tanpa membahagi-bahagikan nikmat yang diperolehnya, seorang tidak dapat bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat-nikmat yang diperolehinya itu.

     Dalam hubungan dengan firman Allah SWT bahawa Nabi Idris A.S. diangkat ke martabat tinggi, Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya meriwayatkan bahawa Nabi Idris A.S. wafat tatkala berada di langit keempat, dibawa oleh seorang Malaikat, Wallahu a'lam bissawab.




"Allah berfirman: "Keluarlah dari syurga itu sebagai makhluk terhina lagi terusir! Sesungguhnya barangsiapa di kalangan mereka ada yang mengikutimu, pasti Aku akan isikan neraka Jahannam dengan kamu semuanya."
(Surah Al-A'raf: 18)







N / F : DARIPADA "KISAH-KISAH PARA NABI & RASUL", OLEH ABDULLAH BIN AHMAD MUBARAK.



Wednesday, 4 April 2018

HABIL & QABIL PUTERA ADAM A.S. [ BAHAGIAN 2 ]






HABIL & QABIL PUTERA ADAM A.S.









C. Penguburan Jenazah Habil


     Qabil merasa gelisah dan bingung menghadapi mayat saudaranya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan tubuh saudaranya yang makin lama makin busuk itu.

     Diletakkannya tubuh itu di dalam sebuah peti yang dipikulnya dengan mundar-mandir oleh Qabil dalam keadaan sedih melihat burung-burung sedang berterbangan hendak menyerbu tubuh jenazah Habil yang sudah busuk itu.

     Kebingungan dan kesedihan Qabil tidak berlangsung lama, kerana ditolong oleh suatu contoh yang diberikan oleh Tuhan kepadanya bagaimana dia sepatutnya menguburkan jenazah saudaranya. Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana, tidak rela melihat mayat hamba-Nya yang soleh dan tidak berdosa itu tersia-sia sedemikian rupa, maka ditunjukkanlah kepada Qabil bagaimana seekor burung gagak menggali tanah dengan kaki dan paruhnya, lalu menyodokkan gagak lain yang sudah mati dalam pertarungan, ke dalam lubang yang telah digalinya, dan menutupinya kembali dengan tanah. Melihat contoh dan pengajaran yang diberikan oleh burung gagak itu, termenunglah Qabil sejenak, lalu berkata pada dirinya sendiri: "Alangkah bodohnya aku, tidakkah aku dapat berbuat seperti burung gagak itu dan mengikuti caranya menguburkan mayat saudaraku?"

     Kemudian kembalilah Adam dari perjalanan jauhnya. Dia tidak melihat Habil di antara putera-puterinya yang sedang berkumpul. Bertanyalah dia kepada Qabil: "Di manakah Habil berada? Aku tidak melihatnya sejak aku pulang."

     Qabil menjawab: "Entah, aku tidak tahu dia ke mana! Aku bukan hamba Habil yang harus mengikutinya ke mana sahaja dia pergi."

     Melihat sikap yang angkuh dan jawapan yang kasar daripada Qabil, Adam dapat meneka bahawa telah terjadi sesuatu ke atas diri Habil, puteranya yang soleh, bertakwa dan berbakti terhadap kedua orang tua itu. Pada akhirnya terbukti bahawa Habil telah mati dibunuh oleh Qabil sewaktu peninggalannya. Dia sangat kesal di atas perbuatan Qabil yang kejam dan ganas, di mana rasa persaudaraan, ikatan darah dan hubungan keluarga diketepikan sekadar untuk memenuhi hawa nafsu dan bisikan Iblis yang menyesatkan.

     Menghadapi musibah itu, Nabi Adam A.S. hanya pasrah kepada Allah SWT dan menerimanya sebagai takdir dan kehendak-Nya, sambil memohon dikurniakan kesabaran dan keteguhan iman baginya dan kesedaran bertaubat dan beristighfar bagi puteranya Qabil.


D. Kisah Qabil dan Habil Dalam Al-Quran


     Al-Quran mengisahkan cerita kedua putera Nabi Adam itu dalam surah "Al-Maidah" ayat 27 sehingga ayat 32 sebagai berikut:

Ertinya:

"Ceritakanlah kepada mereka kisah dua orang putera Adam (Habil dan Qabil) yang telah berlaku dengan sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima korban salah seorang daripada mereka berdua (Habil) dan tidak diterima daripada yang lain (Qabil). Dia (Qabil) berkata: "Aku pasti membunuhmu!" Habil berkata: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) daripada orang yang bertakwah." Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan sekalian alam." Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka; dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang yang zalim." Maka hawa nafsu Qabil telah menjadikannya tergamak untuk membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk menunjukkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qabil berkata: "Aduh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal. Oleh kerana itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahawa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan kerana orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan kerana (dia) membuat kerosakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka para rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka setelah itu bersungguh-sungguh melampaui batas dalam membuat kerosakan di muka bumi." (Surah Al-Maidah: 27-32)


E. Pengajaran Yang Dapat Dipetik Daripada Kisah Habil Dan Qabil


1. Bahawasanya Allah SWT hanya menerima korban daripada seseorang yang menyerahkannya dengan tulus ikhlas, tidak dicampuri dengan sifat-sifat riyak, takkabur atau inginkan pujian. Barang atau binatang yang dikorbankan harus yang masih baik dan sempurna dan dikeluarkannya dari harta dan penghasilan yang halal. Jika korban itu berupa binatang sembelihan, harus yang sihat, tidak mengandungi penyakit ataupun cacat, dan jika berupa bahan makanan harus yang masih segar, baik dan belum rosak atau busuk.

2. Jalan penyelesaian jenazah manusia yang terbaik adalah dengan cara penguburan sebagaimana yang telah diajarkan oleh Allah SWT kepada Qabil. Itulah cara yang paling sesuai dengan martabat manusia sebagai makhluk yang dimuliakan dan diberi kelebihan oleh Allah SWT di atas makhluk-makhluk lainnya, menurut firman Allah SWT.

     Dalam surah "Al-Isra" ayat 70 yang bermaksud;

Ertinya:

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki daripada yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang lebih sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (Surah Al-Isra: 70)




"Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan dan belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)." 
(Surah Al-A'raf: 17)









N / F : DARIPADA "KISAH-KISAH PARA NABI & RASUL", OLEH ABDULLAH BIN AHMAD MUBARAK.

Tuesday, 3 April 2018

HABIL & QABIL PUTERA ADAM A.S. [ BAHAGIAN 1 ]






HABIL & QABIL PUTERA ADAM A.S.








TATACARA hidup suami isteri Adam dan Hawa di bumi mulai tertib dan sempurna tatkala Hawa bersedia untuk melahirkan anak-anaknya yang akan menjadi benih pertama bagi umat manusia di dunia ini.

     Siti Hawa melahirkan kembar dua pasang. Pertama lahirlah pasangan Qabil dan adik perempuannya yang diberi nama "Iqlima", kemudian menyusul pasangan kembar kedua Habil dan adik perempuannya yang diberi nama "Lubuda".

     Kedua orang tua, Nabi Adam dan Siti Hawa, menerima kelahirkan keempat putera-puterinya itu dengan senang dan gembira, walaupun Hawa telah menderita apa yang lumrahnya diderita oleh setiap ibu yang melahirkan bayinya. Mereka mengharapkan dari keempat anak pertamanya ini akan melahirkan anak cucu yang akan berkembang biak untuk mengisi bumi Allah SWT dan menguasainya sesuai dengan amanah yang telah dibebankan di atas bahunya.

     Di bawah naungan ayah ibunya yang penuh cinta dan kasih sayang, maka membesarlah keempat-empat anak itu dengan cepatnya melalui masa kanak-kanak dan menginjak masa remaja. Yang perempuan sesuai dengan qudrat dan fitrahnya menolong ibunya mengurus rumah tangga dan melakukan hal-hal yang menjadi tugas wanita, sedang yang lelaki masing-masing menempuh jalannya sendiri mencari nafkah untuk memenuhi keperluan hidupnya. Qabil berusaha dalam bidang pertanian, sedang Habil di bidang penternakan.

     Penghidupan sehari-hari keluarga Adam dan Hawa berjalan tertib, sempurna diliputi oleh rasa kasih sayang, saling cinta-menyintai, hormat-menghormati, masing-masing meletakkan dirinya dalam kedudukan yang wajar, si ayah terhadap si isteri dan putera-puterinya, si isteri terhadap suami dan anak-anaknya. Demikian pula pergaulan di antara keempat bersaudara berlaku dalam harmoni damai dan tenang, saling bantu-membantu, hormat-menghormati dan bergotong-royong.


A. Keempat Anak Adam Memasuki Masa Remaja


     Keempat putera-puteri Adam mencapai usia remaja dan memasuki masa akil baligh, di mana nafsu berahi dan syahwat serta hajat kepada hubungan kelamin makin hari makin nyata dan nampak pada gaya dan sikap mereka, hal mana menjadi pemikiran kedua orang tuanya dengan cara bagaimana menyalurkan nafsu berahi dan syahwat itu agar terjaga kemurnian keturunan dan menghindari hubungan kelamin yang bebas di antara putera-puterinya.

     Kepada Nabi Adam, Allah SWT memberi ilham dan petunjuk, agar kedua puteranya dikahwinkan dengan kedua puterinya. Qabil dikahwinkan dengan adik Habil yang bernama Lubuda dan Habil dengan adik Qabil yang bernama Iqlima.

     Cara yang telah diilhamkan oleh Allah SWT kepada Nabi Adam A.S. disampaikan kepada kedua puteranya sebagai keputusan si ayah yang harus dipatuhi dan segera dilaksanakan untuk menjaga dan mengekalkan suasana damai dan tenang yang meliputi keluarga dan rumah tangga mereka. Akan tetapi dengan tiada diduga dan disangka, rancangan yang diputuskan itu ditolak mentah-mentah oleh Qabil dan menyatakan bahawa dia tidak mahu mengahwini Lubuda, adik Habil, dengan mengemukakan alasan bahawa Lubuda adalah buruk dan tidak secantiknya adiknya sendiri Iqlima.

     Dia berpendapat bahawa dia lebih patut mempersuntingkan adiknya sendiri Iqlima sebagai isteri dan sekali-kali ia tidak rela menyerahkannya untuk dikahwini oleh Habil. Dan memang demikianlah kecantikan dan keelokan paras wanita selalu menjadi fitnah dan rebutan lelaki yang kadang-kadang menjurus kepada pertentangan dan permusuhan yang sampai mengakibatkan hilangnya nyawa dan timbulnya rasa dendam dan dengki di antara sesama keluarga dan sesama suku.

     Kerana Qabil tetap berkeras kepala tidak mahu menerima keputusan ayahnya dan meminta supaya dikahwinkan dengan adik kembarnya sendiri, Iqlima, maka Nabi Adam A.S. untuk menghindari penggunaan kekerasan atau paksaan yang dapat menimbulkan perpecahan di antara sesama saudara, serta mengganggu suasana damai yang meliputi keluarga beliau secara bijaksana mengusulkan agar menyerahkan masalah perjodohan itu kepada Tuhan untuk menentukannya. Caranya ialah bahawa masing-masing dari Qabil dan Habil harus menyerahkan korban kepada Tuhan, dengan ketentuan bahawa barangsiapa di antara kedua saudara itu diterima korbannya, dialah yang berhak menentukan pilihan jodohnya.

     Qabil dan Habil menerima dengan baik jalan penyelesaian yang ditawarkan oleh ayahnya. Habil keluar dan kembali membawa seekor kambing yang paling dicintai di antara binatang-binatang peliharanya, sedang Qabil datang dengan sekarung gandum yang dipilihnya dari hasil cucuk tanamnya yang rosak dan busuk, kemudian diletakkanlah kedua korban itu, kambing Habil dan gandum Qabil, di atas sebuah bukit, lalu pergilah keduanya menyaksikan dari jauh apa yang akan terjadi atas dua jenis korban itu.

     Kemudian dengan disaksikan oleh seluruh anggota keluarga Adam yang menantikan dengan hati berdebar apa yang akan terjadi di atas bukit di mana kedua korban itu diletakkan, terlihatlah api besar yang turun dari langit menyambar kambing, binatang korban Habil, yang seketika itu musnah disambar oleh api, sedang karung gandum kepunyaan Qabil tidak tersentuh sedikit pun oleh api dan tetap tinggal utuh.

     Maka dengan demikian keluarlah Habil sebagai pemenang dalam pertaruhan itu kerana korbannya kambingnya telah diterima oleh Allah SWT sehingga dialah yang mendapat keutamaan untuk memilih siapakah di antara kedua gadis, saudaranya itu yang akan disunting untuk menjadi isterinya.


B. Pembunuhan Pertama Dalam Sejarah Manusia


     Dengan telah jatuhnya keputusan dari langit yang menerima korban Habil dan menolak korban Qabil, maka pudarlah harapan Qabil untuk mempersuntingkan Iqlima. Dia tidak puas hati dengan keputusan itu, namun tidak ada jalan untuk menolaknya. Dia menyerah dan menerimanya dengan rasa kesal dan marah sambil menaruh dendam terhadap Habil yang akan dibunuhnya di kala ayahnya tidak ada.

     Ketika Adam hendak pergi dan meninggalkan rumah, beliau mengamanahkan rumah tangga dan keluarganya kepada Qabil. Dia berpesan kepadanya agar menjaga baik-baik ibu dan saudara-saudaranya selama dia tidak ada di rumah. Dia berpesan pula agar kerukunan keluarga dan ketenangan rumah tangga terpelihara sebaik-baik, jangan sampai terjadi hal-hal yang mengeruhkan suasana atau merosakkan hubungan kekeluargaan yang sudah akrab dan harmoni.

     Qabil menerima pesanan dan amanah ayahnya dengan kesanggupan akan berusaha sekuat tenaga menyelenggarakan amanah ayahnya dengan sebaik-baiknya dan sempurnakannya dan menjamin bahawa bila ayahnya pulang dari kepergiannya akan mendapatkan segala sesuatu dalam keadaan baik dan menyenangkan.

     Demikianlah kata-kata dan janji yang keluar dari mulut Qabil, namun dalam hatinya dia berkata bahawa dia telah diberi kesempatan yang baik untuk melaksanakan niat jahatnya dan melepaskan rasa dendam dan dengkinya terhadap Habil saudaranya.

     Tidak lama setelah Adam meninggalkan keluarganya, datanglah Qabil menemui Habil di tempat penternakannya. Berkata dia kepada Habil: "Aku datang ke mari untuk membunuhmu. Masanya telah tiba untuk aku lenyapkan engkau dari atas bumi ini."

     "Apakah salahku?" tanya Habil. "Dan dengan alasan apakah engkau hendak membunuhku?"

     Qabil berkata: "Ialah kerana korbanmu diterima oleh Allah SWT, sedang korbanku ditolak, yang bererti bahawa engkau akan mengahwini adikku Iqlima yang cantik molek itu dan aku harus mengahwini adikmu yang buruk dan tidak mempunyai gaya yang menarik itu."

     Habil berkata: "Adakah aku berdosa, bahawa Allah SWT telah menerima korbanku dan menolak korbanmu? Tidakkah engkau telah menyetujui cara penyelesaian yang diusulkan oleh ayah sebagaimana telah kami laksanakan? Janganlah tergesa-gesa, wahai saudaraku, memperturutkan hawa nafsu dan hasutan syaitan! Kawallah perasaanmu dan fikirlah masak-masak akan akibat perbuatanmu kelak! Ketahuilah bahawa Allah SWT hanya menerima korban dari orang-orang yang bertakwa yang menyerahkan korbannya dengan tulus ikhlas dari hati yang suci dan niat yang murni. Adalah mungkin sekali bahawa korban yang engkau serahkan itu, engkau pilihkannya dari gandummu yang telah rosak dan busuk dan engkau berikannya secara terpaksa bertentangan dengan kehendak hatimu, sehingga ditolaknya oleh Allah SWT, berlainan dengan kambing yang aku serahkan sebagai korban, yang sengaja aku pilihkan daripada ternakanku yang paling sihat dan paling sayangi, dan kuserahkannya dengan tulus ikhlas disertai permohonan dapat diterimanya oleh Allah SWT.

     Renungkanlah, wahai saudaraku, kata-kataku ini dan buangkanlah niat jahatmu yang telah dibisikkan kepadamu oleh Iblis itu, musuh yang telah menyebabkan turunnya ayah dan ibu dari syurga, dan ketahuilah bahawa jika engkau tetap berkeras kepada hendak membunuhku, tidaklah akan aku angkat tanganku untuk membalasmu, kerana aku takut kepada Allah SWT dan tidak akan melakukan sesuatu yang tidak diredhainya. Aku hanya berserah diri kepada-Nya dan kepada apa yang akan ditakdirkan bagi diriku."

     Nasihat dan kata-kata mutiara Habil itu didengar oleh Qabil, namun masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri dan sekali-kali tidak sampai menyentuh lubuk hatinya yang penuh rasa dengki dendam dan iri hati, sehingga tidak ada tempat lagi bagi rasa damai cinta dan kasih sayang kepada saudara kandungnya. Qabil yang dikendalikan oleh Iblis, tidak diberinya kesempatan untuk menoleh ke belakang mempertimbangkan kembali tindakan jahat yang dirancangkan terhadap saudaranya, bahkan bila api dendam dan dengki di dalam dadanya mulai akan padam, dikipasinya kembali oleh Iblis agar tetap menyala-nyala dan ketika Qabil bingung tidak tahu bagaimana di harus membunuh Habil saudaranya, menjelmalah Iblis dengan seekor burung yang dipukul kepalanya dengan batu sampai mati. Contoh yang diberikan oleh Iblis itu diterapkannya atas diri Habil ketika dia tidur dengan nyenyaknya dan jatuhlah Habil sebagai korban keganasan saudara kandungnya sendiri dan sebagai korban pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.









N / F : DARIPADA "KISAH-KISAH PARA NABI & RASUL", OLEH ABDULLAH BIN AHMAD MUBARAK.

Sunday, 1 April 2018

NABI ADAM A.S. [ BAHAGIAN 2 ( AKHIR ) ]






NABI ADAM A.S. ( BAHAGIAN 2 )








E. IBLIS MULAI BERAKSI


     Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh Allah SWT. dari syurga akibat pembangkangannya dan terdorong pula oleh rasa iri hati dan dengki terhadap Adam yang menjadi sebab sampai dia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya, tersingkir dari singgahsana kebesarannya. Iblis mulai menunjukkan rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di syurga yang tenteram, damai dan bahagia.

     Dia menyatakan kepada mereka bahawa dia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasihat dan petunjuk untuk kebaikan dan mengekalkan kebahagiaan mereka. Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk mendapat kepercayaan Adam dan Hawa bahawa dia betul-betul jujur dalam nasihat-nasihat dan petunjuk-petunjuknya kepada mereka. Dia membisikkan kepada mereka bahawa larangan Tuhan kepada mereka memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah kerana dengan memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah kerana dengan memakan buah itu mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal. Diulang-ulangilah pujukannya dengan menunjukkan akan harumnya bau pohon yang dilarang, indah bentuk buahnya dan lazat rasanya. Sehingga pada akhirnya termakanlah pujukan yang halus itu oleh Adam dan Hawa dan mengingkari larangan Tuhan.

     Allah SWT mencela perbuatan mereka itu dan berfirman yang bermaksud:

"Tidakkah Aku mencegah kamu mendekati pohon itu dan memakan dari buahnya dan tidakkah aku telah ingatkan kamu bahawa syaitan itu adalah musuhmu yang nyata."

     Adam dan Hawa mendengar firman Allah SWT itu, sedarlah bahawa mereka telah melanggar perintah Allah SWT dan bahawa mereka telah melakukan suatu kesalahan dan dosa yang besar. Sambil menyesal berkatalah mereka: "Wahai Tuhan kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintah-Mu kerana terkena pujukan Iblis. Ampunilah dosa kami kerana nescaya kami akan tergolong orang-orang yang rugi bila Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami."


F. Adam Dan Hawa Diturunkan Ke Bumi


     Allah SWT telah menerima taubat Adam dan Hawa serta mengampuni perbuatan pelanggaran yang mereka telah lakukan. Hal ini telah melegakan dada mereka dan menghilangkan rasa sedih akibat kelalaian peringatan Tuhan tentang Iblis sehingga terjerumus menjadi mangsa pujukan dan rayuannya yang manis namun beracun itu.

     Adam dan Hawa merasa tenteram kembali setelah menerima pengampunan dari Allah SWT dan selanjutnya akan menjaga, jangan sampai tertipu lagi oleh Iblis dan akan berusaha agar pelanggaran, yang telah dilakukan dan menimbulkan murka dan teguran Tuhan itu menjadi pengajaran bagi mereka berdua untuk lebih berhati-hati menghadapi tipu daya dan pujukan Iblis yang terlaknat itu.

     Harapan akan tinggal terus di syurga telah pudar kerana perbuatan pelanggaran perintah Allah SWT, hidup kembali dalam hati dan fikiran Adam dan Hawa yang merasai kenikmatan dan kebahagiaan hidup mereka di syurga tidak akan terganggu oleh sesuatu dan bahawa redha Allah SWT serta rahmat-Nya akan tetap melimpah di atas mereka untuk selama-lamanya.

     Akan tetapi Allah SWT telah menentukan dalam takdir-Nya apa yang tidak terlintas dalam hati dan tidak terfikirkan oleh mereka. Allah SWT yang telah menentukan dalam takdir-Nya bahawa bumi yang penuh dengan tanda kebesaran dan keagungan Tuhan, penuh dengan kekayaan untuk dikelolanya, akan dikuaskaan kepada manusia, keturunan Adam, memerintahkan Adam dna Hawa turun ke bumi sebagai benih pertama dari hamba-hamba-Nya yang bernama manusia itu. Berfirmanlah Allah SWT kepada mereka: 

"Turunlah kamu ke bumi, sebahagian daripada kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain, kamu dapat tinggal tetap dan hidup di sana sampai waktu yang telah ditentukan."

     Turunlah Adam dan Hawa ke bumi menghadapi cara hidup baru yang jauh berlainan dengan hidup di syurga yang pernah dialami dan yang tidak akan berulang kembali. Mereka menempuh hidup di dunia yang fana ini dengan suka dan dukanya dan akan menurunkan umat manusia yang beraneka ragam sifat dan tabiatnya, berbeza-beza warna kulitnya dan kecerdasan otaknya.

     Umat manusia yang akan berkelompok menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa, di mana yang satu menjadi musuh bagi yang lain, saling bunuh-membunuh, aniaya-menganiaya dan tindas-menindas, sehingga dari waktu ke waktu Allah SWT mengutuskan nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya, memimpin hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus penuh damai kasih sayang di antara sesama manusia, jalan yang menuju kepada redha-Nya dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.


G. Kisah Adam Dalam Al-Quran


     Al-Quran menceritakan kisah Adam dalam beberapa surah di antaranya (surah Al-Baqarah, ayat 30-38) sebagai berikut:

Ertinya:

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Adakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerosakan padanya dan menumpahkan darah padahal kami sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan menyucikanMu?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakan kepada para malaikat, lalu berfirman: "Terangkanlah kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang golongan yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." Allah berfirman: "Wahai Adam, terangkanlah kepada mereka nama benda-benda ini!" Maka setelah diterangkan kepada mereka nama benda-benda itu, Allah berfirman: "Bukankah Aku sudah katakan kepadamu bahawa sesungguhnya Aku mengetahui rahsia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu zahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam!" Maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takbur dan ia termasuk golongan orang yang kafir. Dan Kami berfirman: "Wahai Adam, tinggallah engkau dan isterimu di syurga ini dan makanlah makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai dan janganlah kamu mendekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang yang zalim." Lalu keduanya digelincirkan (diperdaya) oleh syaitan dari syurga itu dan dikeluarkan dari keadaan asal dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain dan bagi kamu ada ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." Kemudian Adam menerima beberapa kalimah dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Kami berfirman: "Turunlah kamu semua dari syurga itu! Kemudian jika datang petunjukKu kepada kamu, maka sesiapa yang mengikuti petunjukKu, nescaya tidak ada kebimbangan atas mereka dan tidak (pula) mereka berdukacita." (Surah Al-Baqarah: 30-38)

     Dan surah Al-A'raf ayat 11-25 yang bermaksud:

Ertinya:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuh(mu), kemudian Kami berfirman kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Ia (iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman: "Apakah yang menghalangmu untuk bersujud (kepada Adam) pada waktu Aku menyuruhmu?" Iblis menjawab: "Aku lebih baik daripada dia. Kamu ciptakan aku daripada api, sedangkan dia kamu ciptakan daripada tanah." Allah berfirman: "Turunlah kamu dari syurga itu; kerana kamu tidak sepatutnya menyombong diri di dalamnya. Maka keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina." Iblis menjawab: "Berilah tempoh kepadaku sampai waktu sampai dibangkitkan." Allah berfirman: "Sesungguhnya engkau termasuk emreka yang diberi tempoh." Iblis menjawab: "Kerana Engkau telah menghukum aku sebagai sesat, aku benar-benar akan (menghalang) mereka dari jalanMu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakn mereka bersyukur (taat)." Allah berfirman: "Keluarlah dari syurga itu sebagai makhluk terhina lagi terusir! Sesungguhnya barang siapa di kalangan mereka ada yang mengikutimu, pasti Aku akan isikan neraka Jahannam dengan kamu semuanya." (Dan Allah berfirman): "Wahai Adam! Tinggallah kamu dan isterimu di dalam syurga dan makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu berdua suka. Dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, jika tidak, jadilah kamu berdua termasuk orang yang zalim." Kemudian syaitan (iblis) membisikkan fikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup daripada mereka, iaitu auratnya dan iblis berkata: "Tuhan kamu tidak melarang kamu daripada mendekati pohon ini, melainkan (kerana Dia tidak suka kamu berdua menjadi malaikat atau menjadi orang yang kekal (dalam syurga)." Dan ia (iblis) bersumpah kepada keduanya: "Sesungguhnya aku adalah pemberi nasihat kepada kamu berdua." Maka iblis memujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah pohon kayu itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan keduanya mulalah menutup dengan daun-daun dari syurga. Kemudian Tuhan mereka menyeru kepada mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua menghampiri dari pohon kayu itu dan Aku telah mengatakan bhawa sesungguhnya syaitan (iblis) itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?" Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian! Sebahagian kamu mejadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan." Allah berfirman: "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan." (Surah Al-A'raf: 11-25)


H. Beberapa Pengajaran Yang Dapat Dipetik Daripada Kisah Adam A.S.


1. Bahawasanya hikmah yang terkandung dalam perintah-perintah dan larangan-larangan Allah SWT dan dalam apa yang diciptakannya kadangkala tidak atau belum dapat dicapai oleh otak manusia bahkan oleh makhluk-Nya yang terdekat, sebagaimana telah dialami oleh para malaikat tatkala diberitahu bahawa Allah SWT akan menciptakan manusia keturunan Adam untuk menjadi khalifah-Nya di bumi sehingga mereka seakan-akan keberatan dan bertanya-tanya mengapa dan untuk apa Allah SWT menciptakan jenis makhluk lain daripada mereka yang sudah patuh, rajin beribadat, bertasbih, bertahmid dan mengagungkan nama-Nya.

2. Bahawasanya manusia walaupun dia telah dikurniai kecerdasan, berfikir dan kekuatan fizikal dan mental dia tetap mempunyai beberapa kelemahan pada dirinya, seperti sifat lalai, lupa dan khilaf. Hal ini telah terjadi pada diri Nabi Adam yang walaupun dia telah menjadi manusia yang sempurna dan dikurniai kedudukan yang istimewa di syurga, dia tetap tidak terhindar dari sifat-sifat manusia yang lemah itu. Dia telah lupa dan melalaikan peringatan Allah SWT kepadanya tentang pohon yang terlarang dan tentang Iblis yang mejadi musuhnya dan musuh seluruh keturunannya, sehingga terperangkap ke dalam tipu dayanya dan terjadilah pelanggaran pertama yang dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah SWT.

3. Bahawasanya seseorang yang telah terlanjur melakukan maksiat dan berbuat dosa, tidaklah dia sepatutnya berputus asa dari rahmat dan ampunan Tuhan, asalkan dia sedar akan kesalahannya dan bertaubat tidak akan melakukannya kembali. Rahmat Allah SWT dan maghfirah-Nya dan memaafkan segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya kecuali syirik bagaimana pun besar dosa itu asalkan diikuti dengan kesedaran bertaubat dan pengakuan bersalah.

4. Sifat sombong dan bongkak selalu membawa akibat kerugian dan kebinasaan. Lihatlah Iblis yang turun dari singgahsananya, dilucutkan kedudukannya sebagai seorang malaikat dan diusir oleh Allah SWT dari syurga dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepada dirinya hingga hari kiamat. Kerana kesombongan dan kebanggaannya dengan asal-usulnya sehingga ia menganggap dan memandang rendah kepada Nabi Adam dan menolak untuk sujud menghormatinya walaupun diperintahkan oleh Allah SWT.




"Allah berfirman: "Turunlah kamu dari syurga itu; kerana kamu tidak sepatutnya menyombong diri di dalamnya. Maka keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina." 
(Surah Al-A'raf: 13)




N / F : DARIPADA "KISAH-KISAH PARA NABI & RASUL", OLEH ABDULLAH BIN AHMAD MUBARAK.